Rasulullah SAW mengingatkan bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging; ketika ia baik, seluruh tubuh ikut menjadi baik, dan ketika ia rusak, seluruh tubuh pun ikut rusak. Segumpal daging itu adalah hati. Hadis ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa seluruh perilaku, ucapan, pilihan, dan arah hidup seseorang sebenarnya berawal dari kondisi hatinya.
Hati yang baik akan memantulkan kebaikan pada setiap tindakan. Kita menjadi lebih sabar, lebih tenang, lebih mudah menghargai orang lain, dan lebih jernih dalam mengambil keputusan. Hati yang bersih membuat seseorang tidak mudah terseret iri, amarah, atau buruk sangka. Bahkan hal-hal sederhana seperti tersenyum, mengucapkan terima kasih, atau membantu teman menjadi lebih tulus ketika hatinya lapang.
Sebaliknya, hati yang tidak dijaga akan mempengaruhi seluruh sisi kehidupan. Sedikit saja ada rasa sombong, malas, atau dengki, maka seluruh perilaku ikut terganggu. Lisan menjadi mudah menyakiti, pikiran terasa berat, dan hubungan dengan orang lain pun ikut renggang. Itulah sebabnya menjaga hati bukan sekadar urusan spiritual, tetapi juga urusan akhlak dan keseharian.
Untuk merawat hati, setiap orang perlu terus melatih diri agar lebih peka terhadap kondisi batinnya. Istighfar yang diucapkan dengan kesadaran dapat menghapus noda kecil yang menempel tanpa kita sadari. Menjaga ucapan dapat mencegah hati mengeras. Menahan diri dari dosa membuat hati tetap lembut. Dan berada di lingkungan yang baik membantu hati tetap hidup dan tidak mudah goyah.
Pada akhirnya, hati adalah pusat dari segala hal. Jika ia baik, hidup terasa lebih mudah dijalani. Jika ia rusak, hal-hal kecil pun bisa menjadi beban. Hadis ini mengajak kita untuk terus memperhatikan apa yang kita rasakan, pikirkan, dan lakukan, karena semuanya kembali pada satu tempat: hati yang perlu dijaga agar tetap hidup, bersih, dan berpihak pada kebaikan.