Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering merasa perlu membela pendapat. Ketika merasa benar, keinginan untuk berdebat muncul begitu saja. Padahal Rasulullah SAW justru mengajarkan sebaliknya. Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Aku menjamin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun ia benar.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini mengajarkan bahwa kebenaran tidak selalu harus disampaikan dengan perdebatan. Terkadang, mempertahankan ego dan ingin menang justru menjauhkan kita dari akhlak yang baik. Islam tidak melarang sikap berlebihan yang melahirkan permusuhan dan merusak persaudaraan.
Perdebatan seringkali tidak berakhir dengan solusi. Yang ada justru hati yang panas, ucapan yang menyakitkan, dan hubungan yang retak. Padahal tujuan seorang Muslim bukan sekadar terlihat benar, melainkan menjaga ketenangan hati dan persatuan.
Meninggalkan perdebatan bukan berarti mengalah pada kebatilan. Ini adalah bentuk kedewasaan iman, kemampuan mengendalikan emosi, dan memilih sikap yang lebih bijak. Saat seseorang mampu menahan diri meski berada di pihak yang benar, di situlah nilai akhlak dan ketakwaan diuji.
Di tengah kehidupan yang penuh perbedaan pendapat, hadits ini menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus diluruskan dengan debat panjang. Terkadang, diam dan bersikap tenang justru lebih menyampaikan pesan daripada seribu kata.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu menjaga lisan, meredam ego, dan memilih jalan akhlak dalam menyikapi perbedaan. Karena dalam Islam, kemenangan sejati bukan saat kita menang berdebat, tetapi saat kita mampu menundukkan diri demi kebaikan bersama.